Tampilkan postingan dengan label Artikel / makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel / makalah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Desember 2011

Jika Komodo jadi New 7 Wonder

Beberapa waktu belakangan, kita sering mendengar dan melihat kampanye yang begitu massif terkait dengan pulau Komodo. Ya...kampanye untuk mendukung Komodo sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia baru. Berbagai kampanye dilakukan, mulai dari iklan di televisi, media cetak, jejaring sosial macam facebook dan twitter, dan masih banyak lagi. Usaha untuk menggolkan komodo menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia barupun dilakukan dengan memberikan biaya yang sangat murah untuk vote melalui sms. Berbagai upaya itu dilakukan untuk mencapai tujuan yaitu menjadikan Komodo sebagai keajaiban dunia. Bagi para suksesor pemenangan komodo, upaya ini dimaksudkan untuk mengenalkan komodo dan dunia pariwisata di Indonesia. Setelah Borrobudur tidak lagi menjadi keajaiban dunia, sekarang Komodo diharapkan menjadi keajaiban dunia. Penentuan apakah komodo akan menjadi keajaiban dunia atau tidak adalah lewat vote dari masyarakat dunia. Jikalau Komodo tidak mendapat vote banyak maka tidak akan dianggap sebagai New 7 Wonder. Kabar terbaru menyebutkan untuk sementara Komodo masuk dalam 7 keajaiban dunia baru, namun pengumuman resmi belum dirilis. Berbagai pihak yang mendukung dengan berbagai alasan pastinya senang dan gembira jika Komodo masuk New 7 Wonder.
Nah mari kita duduk, merenung, sambil minum kopi atau rokok (kalau yang merokok) dan mengkhayal tentang komodo

Sabtu, 23 Juli 2011

Selain pornografi, kekerasan, dan mistis; berita politik juga berbahaya bagi anak

Beberapa waktu yang lalu entah lalunya berapa lama, kita disuguhkan dengan adanya perdebatan terkait dengan bahaya tayangan pornografi, kekerasan, serta hal – hal yang berbau mistis. Ketga hal itu memang menjadi hal yang sering ditampilkan dalam media televisi kita. Hal itu dianggap berbahaya karena dapat merusak perkembangan anak serta pola pikir masyarakat. Dan hal yang paling normatif yang diutarakan adalah pornografi, kekerasan, serta tayangan berbau mistis merusak moralitas masyarakat terutama apabila ditonton oleh anak – anak. Benar sekali memang, pornografi jelas tidak diperbolehkan karena tidak sesuai dengan adab ketimuran yang dianut oleh bangsa kita, disamping itu tayangan pornografi bila ditonton anak kecil akan merusak pola pikiran anak. Kekerasan juga demikian bahaya bagi anak-anak. Tayangan kekerasan yang ditampilkan di televisi bila ditonton anak akan berdampak pada peniruan terhadap adegan – adegan kekerasan tersebut. Sudah banyak peristiwa dimana anak-anak mempraktekan adegan kekerasan terhadap teman bermainya yang mengakibatkan kecelakaan luka maupun kematian. Demikian pula dengan tayangan mistis akan berakibat merusak pola pikir rasional masyarakat dan bahkan para tokoh agama khawatir akan membawa masyarakat menjadi musrik.
Ternyata tidak hanya tiga hal itu yang berbahaya bagi perkembangan anak bila ditonton. Apakah hal itu??? Ya, Berita politik yang secara masif ditayangkan di televisi saya pikir juga berbahaya. Baru – baru ini berita terkait perpolitikan semisal yang paling hangat kasus Nazarudin dengan Anas, hampir tidap pagi, siang, sore, malam selalu menjadi berita. Ini jelas berbahaya bila ditonton oleh anak – anak. Bagaimana berbahaya? Ya, kita dipertontonkan sandiwara politik, konflik politik, perseteruan yang tidak jelas siapa yang salah dan siapa yang benar. Berita anas vs nazarudin misalnya itu menyajikan bagaimana hubungan persahabatan hancur seketika gara- gara uang. Ini pelajaran yang tidak baik tentang ketidak setiakawanan. Selain itu kebohongan atau ketidakjujuran menjadi hal yang sering kita lihat dan diperlihatkan dimedia televisi kita.
Apa jadinya jika tayangan ini ditonton anak, kemudian menelan mentah – mentah?? Jelas sangat berbahaya. Nilai ketidaksetiakawanan, kebohongan/ketidakjujuran akan merasuki generasi muda kita jikalau tayangan politk yang maha amburadul ini dipertontonkan kepada anak secara masif. Media serta para politikus kita yang seharusnya menyajikan serta memberi pembelajaran politik yang baik kepada masyarakat ternyata menyuguhkan perpolitikan yang busuk, korup, serta dibumbui dengan perseteruan dan kepentingan rating. Sungguh disayangkan...
Itulah bahayanya tayangan berita perpolitikan dinegeri kita bagi perkembangan anak. Jadi jikalau anda sudah muak dengan tayangan – tayang politik kita. Hindarkan anak – anak ketika anda sedang menonton sandiwara politik di televisi kita.
Matikan TV sekarang juga, selamatkan perkembangan anak!!!

Minggu, 05 September 2010

ZAKAT FITRAH ( Sebuah Analisis Teori Redistribusi)


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
       Fenomena lebaran menjadi sebuah fenomena religius yang sangat dinanti – nanti oleh masyarakat terutama kaum muslim. Berbagai persiapan pun seakan membuat masyrakat sibuk menyiapkan keperluan lebaran. Berbagai kegiatan pun dilakukan untuk menyempurnakan puasanya sebelum merayakan Idul fitri. Salah satunya adalah kegiatan zakat fitrah yang menjadi kewajiban kaum muslim. Dimana menurut ajaran agama Islam zakat fitrah menjadi penyempurna setelah kaum muslim melaksanakan ibadah puasa dibulan Ramadhan.
       Zakat sendiri berasal dari kata zaka yang berarti tumbuh subur, makna yang lain adalah suci dari dosa sebagaimana tertulis dalam kitab suci umat Islam Al Quran. Sementara menurut Imam Rughib, zakat adalah harta yang diambil dari kaum kaya dan diberikan kepada kaum miskin. Menurut Amir Syarifudin zakat ialah sejumlah kadar harta tertentu yang diwajibkan Allah atas harta orang Islam yang digunakan bagi kepentingan ummat menurut yang ditentukan Allah.
Zakat sendiri ada dua macam yaitu zakat mal dan zakat fitrah. Dalam hal ini kami akan menbahas tentang zakat fitrah. Dimana zakat fitrah sendiri diartikan makanan pokok yang diberikan pada akhir bulan Ramadhan sampai menjelang sholat ied sebesar 2,5 kg. Dimana penarikan zakat ini dilakukan oleh badan khusus yaitu amil, setelah itu dibagikan kepada masyarakat yang berhak menerima. Dimana dalam ajaran islam ada kategori orang yang berhak menerimanya yaitu fakir, miskin, amil, muallaf, hamba sahaya, gharim, sabilillah, dan musafir. Akan tetapi yang paling diutamakan adalah fakir dan miskin. Pemberian zakat ini dipercaya selain meningkatkan ekonomi masyarakat juga akan menambah kekayaan bagi mereka yang memberi zakat. Hal ini menunjukan adanya proses penyaluran atau dapat diistilahkan sebagai proses distribusi.

Jumat, 03 September 2010

FENOMENA MUDIK LEBARAN ( Suatu Kajian Sosiologi Ekonomi )


oleh
Malik Ridwan Fauzi
Sosiologi Antropologi UNNES 2006

PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
            Sebulan kaum muslim melakukan ibadah puasa dibulan puasa. Setelah itu merayakan hari raya idul fitri atau orang Indonesia biasa menyebut hari lebaran. Hari lebaran merupakan suatu hari yang sangat dinanti – nanti oleh seluruh umat islam di seluruh dunia. Tak terkecuali di Indonesia. Sebagai negara dengan penganut agama islam terbesar di dunia, Indonesia menjadi negara yang sangat menanti – nantikan hari raya idul fitri.  Dimana secara agama islam idul fitri dimaknai sebagai hari kemenangan dimana umat islam telah menjalankan ibadah pausa sebulan penuh. Tak ayal, hari itu serasa sangat ditunggu-tunggu.
            Pada masyarakat Indonesia, beberapa hari menjelang hari lebaran terjadi fenomene yang sangat unik. Yaitu adanya tradisi mudik yang dilakukan masyarakat Indonesia. Mudik ini biasanya dilakukan oleh para perantau yang berasal dari kampung yang bekerja di kota – kota besar. Mereka melakukan tradisi mudik karena ingin merayakan hari raya idul fitri dikampung halamannya.
            Tradisi mudik mejadi sangat fenomenal karena dilakukan oleh ribuan orang bahkan jutaan masyarakat indonesia. Sehingga tradisi ini menjadi sebuah sorotan dan menjadi tradisi khas di Indonesia. Para perantau rela berdesak – desakan dan bahkan mengeluarkan banyak uang untuk melakukan tradisi mudik. Bahkan ada juga yang rela mempertaruhkan nyawanya hanya untuk dapat mudik kekampung halamannya dengan naik diatas kereta api atau bahkan mengendarai sepeda motor dengan jarak yang jauh.
            Sebegitu besarnya keinginan masyarakat untuk melakukan mudik menjadikan tradisi ini menjadi tradisi yang fenomenal setiap tahunnya. Bahkan semakin lama tradisi ini melibatkan lebih banyak orang lagi. Dan sekarang menjadi fenomena sosial yang sangat menarik.

Minggu, 22 Agustus 2010

HUT RI DI BULAN RAMADHAN ( Menata kembali kehidupan berbangsa dan beragama )


Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke 65 yang di rayakan pada 17 Agustus 2010 merupakan momen yang paling bersejarah bagi bangsa Indonesia, karena pada tanggal tersebut tahun 1945 bangsa Indonesia mendeklarasikan diri untuk merdeka.  Setelah berabad – abad lamanya di jajah oleh bagsa Belanda, Portugis, Spanyol, Inggris secara bergantian akhirnya bangsa Indonesia melalui Soekarno – Hatta memproklamirkan kemerdekaannya. Merdeka dalam arti yang sesungguhnya dan ddalam arti yang seluas – luasnya yaitu merdeka dari penjajahan bangsa lain sekaligus merdekan dalam mengatur kehidupan bangsa Indonesia selanjutnya.

Rabu, 02 Juni 2010

BUDAYA FEODALISME MENUMBUHKAN MENTAL MISKIN

Abstrak
Indonesia merupakan Negara yang kaya akan sumber daya alam. Namun ternyata kekayaan tidak bisa membuat bangsa ini keluar dari kemiskinan. Masih banyak masyarakatyang hidup dalam kemiskinan. Kemiskinan ini disebabkan selain karena faktor struktural yang tidak memberi kesempatan masyarakat untuk mengakses sektor – sektor kehidupan, namun juga disebabkan oleh nilai – nilai budaya yang dinut leh masyarakat. salah satunya adalah budaya feodalisme, dimana masyarakat selalu berorientasi ke atasan, senior, dan pejabat untuk dimintai restunya ketika akan melakukan kegiatan atau usaha. Budaya ini mengakibatkan masyarakat menjadi terkungkung, kurang kreatif karena selalu menurut pada atasan. Akibatnya yang mendapatkan keuntungan hanya kelas atas yang jumlahnya sedikit, sementara kelompok bawah yang mayoritas tidak mendapat apa – apa dan akan selalu hidup dalam keterbatasan. Soluisnya adalah dengan menanamkan budaya egaliter dan demkrasi secara utuh. Dengan hal itu akan memberi kesempatan setiap individu untuk dapat berkreasi dan tidak selalu terbelenggu oleh perintah atasan. Keyword: Kemiskinan dan Feodalisme



Latar belakang

Kehidupan suatu masyarakat tidak akan lepas dari adanya masalah – masalah. Masalah yang menjadi perhatian dalam kehidupan modern ini adalah kemiskinan. Kemiskinan menjadi hantu yang terus membayangi kehidupan manusia sebagai anggota masyarakat dan bangsa. Keadaan miskin ini menjadi suatu masalah sosial yang memang menjadi bagian masyarakat di seluruh dunia.
Indonesia merupakan Negara yang kaya akan sumber daya alam. Tanah yang subur, tambang yang yang melimpah, serta berbagai hasil alam yang kaya menjadi kekuatan bangsa ini. Kekayaan yang dimiliki menjadi modal yang besar bagi bangsa ini untuk mencapai suatu kemakmuran dan kesejahteraan yang juga telah diamanahkan dalam UUD 1945. Berbagai hasil dari bumi Indonesia seharusnya menjadikan bangsa ini serta rakyat Indonesia menjadi kaya. Pengelolaan yang maksimal akan menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang kaya dan terbebas dari kemiskinan.
Realitas yang ada pada bangsa ini ternyata tidak demikian. Bangsa ini justru menjadi bangsa yang tidak dapat keluar dari kemiskinan. Hal ini ditunjukan dengan masih banyaknya masyarakat yang berada dalam kemiskinan. Masyarakat Indonesia masih banyak yang kelaparan, tidak mendapat pendidikan, dan hidup dalam keterbatasan. Hal ini jelas menunjukan bahwa masyarakat mengalami suatu keadaan miskin

Sabtu, 24 April 2010

POLITIK SIMBOLISME ( Perilaku Politik Demosntran dalam Kajian Antropologi Politik )

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Proses perpolitikan Indonesia mengalami suatu keadaan yang cukup dinamis. Dinamika politik begitu cepat berubah seiring dengan adanya kejadian – kejadian yang membuat para praktisi politik bahkan masyarakat memanas. Hal ini diakibatkan oleh adanya arus media yang secara terang – terangan membuka informasi kepada masyarakat mengenai jalannya perpolitikan di Indonesia.
Berbagai peristiwa beberapa waktu lalu seperti kebijakan pemerintah terkait bank Century menjadi suatu dinamika politik yang cukup menyita perhatian. Kebijakan mengenai Bailout Bank Century kontak menuai pro dan kontra. Ada kalangan yang menganggap bahwa bailout tersebut tepat namun banyak kalangan yang justru menganggap proses bailout Century salah dan ada unsure korupsi di dalamnya. Pihak – pihak yang kontra dengan bailout Century sangat banyak dan bahkan menuntuk masalah ini diselesaikan dengan meminta pihak – pihak yang terkait atas kebijakan bailout Century untuk bertanggungjawab. Namun proses yang diinginkan ternyata belum berjalan dengan apa yang dikehendaki masyarakat. dari hal itu beberapa elemen masyarakat dan mahasiswa melakukan demonstrasi menuntuk kasus century diselesaikan dan pihak yang bertanggungjawab diadili.
Demonstrasi dilakukan sebagai sebuah tindakan untuk menyampaikan aspirasi dan dilakukan oleh kerumunan massa yang cukup besar serta biasanya dilakukan dengan orasi. Peristiwa demonstrasi yang dilakukan elemen mahasiswa ternyata tidak hanya sekedar menyuarakan aspirasi melalui orasi saja, namun para demonstaran juga melakukan tindakan – tindakan yang menyita perhatian antara lain membawa foto pejabat dengan diberi tanduk di kepala dan taring di mulutnya. Selain itu yang cukup menarik lagi adalah hadirnya sesosok kerbau yang dibawa para demonstran yang diberi tulisan “Si BuYa”. Hal ini bahkan menjadi suatu kontroversi yang berbuntuk panjang.
Dari hal itu, menjadi sesuatu hal yang menarik bila fenomena – fenomena politik tersebut dikaji dalam perspektif antropologi politik.

Sabtu, 27 Maret 2010

Pluralisme Kajian Sosiologi Agama

Tulisan ini akan berangkat dari dua premis (1) Pluralisme bukan suatu aliran agama dan (2). Perbedaan itu rahmat. Pernyataan pertama mengandung arti bahwa pluralisme mencerminkan suatu kajian ilmu sosiologi-antropologi. Konsep pluralisme awalnya dikemukan oleh Christian Wolf dan Immanuel Kant sebagai filosof pencerahan yang menekankan pada doktrin tentang adanya kemungkinan pandangan-pandangan dunia dikombinasikan dengan kebutuhan untuk mengadopsi sudut pandang universal penduduk dunia. Berikut ini beberapa pengertian pluralisme.
Pertama, menurut sosiologi fungsional, pluralisme adalah diferensiasi (perbedaan) masyarakat yang dapat diamati pada level individu sebagai diferensiasi peran, pada level organisasional sebagai kompetisi organisasi-organisasi formal, dan pada level masyarakat sebagai pembatasan-pembatasan terhadap fungsi institusi.
Kedua, dalam wacana ilmu sosial, pluralisme dalam arti pengakuan terhadap keragaman dalam masyarakat dan berbagai prasyarat bagi pilihan dan kebebasan individu, dihadapkan pada dua ekstrem yang berlawanan. (1) pluralisme berhadapan dengan berbagai monisme, seperti teokrasi, negara absolut, monopoli,
masyarakat total, kesadaran terasing, dan kebudayaan monolitik, (2) pluralisme mengimplikasikan struktur yang dapat diidentifikasi. Di mana pluralisme dapat secara simultan dihadapkan pada sesuatu tanpa bentuk seperti anarki, anomie dalam arti kognitif maupun normatif, relativisme epistimologis, dan posmodernisme yang tidak koheren.
Dengan kalimat lain, pluralisme menekankan pengertian deskriptif dan evaluatif, di satu sisi, konsep pluralisme berarti kesadaran akan banyaknya subentitas, sebaliknya di sisi lain mengungkapkan pengakuan positif terhadap pluralisme. Dari beberapa definisi tentang pluralisme di atas, adapun yang dimaksud dengan pluralisme agama adalah adanya pengakuan bahwa seluruh manusia di bumi ini tidak hanya menganut satu agama tetapi menganut banyak agama

Sabtu, 13 Maret 2010

Memahami Fenomena Gerakan Sosial Masyarakat

A. Pendahuluan
Masyarakat dan gerakan sosial tentunya memiliki sebuah korelasi yang tidak bias terlepaskan. Bahwasanya gerakan sosial itu sendiri adalah bagian dari masyarakat serta dapat dikatakan adalah sebuah bentuk implementasi dari apa yang dipikirkan, dikonsepkan, dan mungkin beberapa akan coba disatukan oleh beberapa individu atau masyarakat, lalu diwujudkan melalui sebuah pergerakan apapun itu bentuknya yang bisa disebut sebuah gerakan sosial itu sendiri.
Rata Penuh
Banyak fenomena - fenomena gerakan massa yang terjadi akhir - akhir ini. Entah hal tersebut berbentuk politis, sosial, ekonomi, dan segala bentuk aspek kehidupan lainnya. Yang jelas sebuah gerakan massa atau gerakan sosial tentunya tidak akan terlepas dari apa yang dinamakan sebuah kepentingan. Kebanyakan masyarakat tentunya memiliki alasan dasar mengapa bisa mengkonsepkan sesuatu dan diimplementasikan menjadi sebuah gerakan, tentunya ada sebab dan ada akibat, dalam artian hal ini, tentunya masyarakat pada khususnya dalam hal ini, melakukan sebuah pergerakan dikarenakan adanya sesuatu yang salah dari masyarakat itu sendiri, entah hal tersebut merugikan masyarakat banyak atau hanya segelintir individu - individu yang terlibat.

Di era saat ini hal yang dinamakan gerakan sosial tidak hanya identik dengan gerakan – gerakan yang bersifat frontal dan langsung. Demonstrasi, aksi – aksi damai, teatrikal, dan segala bentuk aksi lainnya yang biasa dilakukan oleh masyarakat termasuk mahasiswa, memang hal tersebut pun bisa dikatakan menjadi sebuah gerakan sosial, namun di era saat ini kita juga tidak boleh lupa dengan berbagai macam media yang ada di masyarakat, kreatifitas individu – individu yang terus berkembang, dan sebagainya, dari sanalah timbul model – model lain yang bisa dinamakan gerakan sosial, entah bisa melewati jejaring sosial yang ada di dunia maya, ataupun hanya melalui kesadaran – kesadaran dari beberapa kelompok masyarakat dan bergerak untuk dapat menyelesaikan sebuah masalah, entah dalam hal ini bergerak secara sosial meminta bantuan di masyarakat sekitar, ataupun bisa secara politisi masyarakat bergerak menuntut ditegakkannya keadilan.

Apapun bentuk implementasi dari pemikiran dan perspektif masyarakat yang nantinya akan menjadi sebuah gerakan sosial yang apapun juga bentuk dari gerakan sosial itu sendiri, tentunya gerakan sosial terjadi dan dijalankan oleh masyarakat dikarenakan masyarakat ataupun individu merasa diperlakukan tidak adil entah oleh pihak manapun itu. Tentunya gerakan sosial bukanlah suatu hal yang negative selama hal tersebut memang berlandaskan terhadap azas kemanusiaan, selama esensi dasar dari terjadinya gerakan sosial itu sendir adalah bukan dari kepentingan manapun melainkan murni kemanusiaan.

Pada bagian berikut kita dapat melihat beberapa analisis kasus dari terjadinya gerakan sosial di masyarakat berdasarkan kasus ketidakadilan yang bersifat kemanusiaan juga.

B. Analisis Kasus
Sebuah kejadian luar biasa dalam jagad sejarah sosial politik ditorehkan dengan sangat jelas. Prita, seorang ibu rumah tangga yang menulis email tentang keluhannya atas pelayanan di RS Omni Internasional, dihukum dalam perkara perdata sebesar Rp 204 juta. Perkara pidana menyusul. Sontak, aksi publik terjadi, berupa pengumpulan koin. Segera saja koin demi koin mengalir kepada Prita. Dari seluruh penjuru kiriman koin dikirimkan. Dalam waktu 4 hari sejak dikumpulkan, uang yang terkumpul sudah mencapai kurang dari Rp 100 juta. Kini angka dukungan untuk disalurkan kepada Prita,sudah melebihi denda yangdibebankankepadanya.

Beberapa waktu yang lalu, kita juga menyaksikan aksi dukungan yang diberikan masyarakat secara simbolik kepada pimpinan KPK yang kala itu dinon-aktifkan dari jabatannya. Demi membela Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah yang diidentikkan sebagai institusi KPK, ribuan orang membangun jejaring dan hubungan yang meskiterpisah-pisah.

Di dunia maya orang bergabung segera ketika kedua pimpinan KPK non-aktif tersebut ditahan oleh Mabes Polri. Galangan dukungan kepada keduanya mengalir ribuan orang setiap harinya. Mereka yang tergabung ke dalam komunitas seni, membangun dukungan melalui mural dan aksi teatrikal. Mereka mengungkapkan penolakan mereka pada cara-cara pembungkaman KPK. Aksi gelaran parade dukungan terhadap Bibit-Chandra itu juga turut diisi oleh para tokoh di pentas nasional, sesuatu yang untuk pertama kalinya terjadi sejak tahun 1998. Tak kalah, ketika masih di penjara, ulang tahun “eyang Bibid” pun dirayakan oleh anak-anak kecil yang masih di duduk di bangku Taman Kanak-Kanak di Solo.

Gelaran aksi masyarakat tersebut memang sungguh sangat unik dan fenomenal. Unik karena tidak pernah kasus serupa terjadi dan memperoleh dukungan semasif itu. Untuk Prita saja, anak-anak kecil pun mengumpulkan koin untuknya, persis ketika sekelompok anak TK juga bernyanyi untuk Bibit Samad Rianto. Unik rasanya menyaksikan bagaimana aksi dukungan masyarakat ini bekerja. Semua dukungan terhadap Prita dan sebelumnya KPK mengalir begitu saja. Kepentingan semua yang terlibat cuma satu, yaitu bagaimana mendukung sosok yang dianggap menjadi korban dari sebuah perlakuan tidak adil. Prita dan KPK dianggap merepresentasikan kepentingan dan keinginan masyarakat. Tetapi ketika kemudian dizhalimi dengan cara-cara yang tidak fair, menurut pendapat masyarakat, maka saatnya masyarakat bergerak. Simbol gerakan sosial masyarakat tersebut adalah sebuah “teriakan” lantang menolak penguasa dan segala bentuk kekuasaannya yang mencoba memaksakan kehendaknya.
Gerakan sosial masyarakat memang hadir memecah kebuntuan. Kebuntuan dalam mekanisme proses sosial politik kita terjadi karena banyak pihak yang seharusnya membela Prita atau KPK, justru malah bersikap pasif dan berdiam diri. Secara umum, kita sudah tak punya lagi kaum oposan yang efektif, yang mampu menandingi kekuatan kebijakan pemerintah, serta memberikan kritik-kritik yang didengarkan. Merespon kasus Prita dan KPK, tak satupun parpol terdengar bicaranya. Mereka, parpol yang sebagian besar telah berkoalisi dengan pemerintah itu, dan yang notabene telah mengikat kontrak politik untuk mendukung kebijakan pemerintah, kelihatannya memang telah dibungkam oleh semangat yang sama dan sebangun dengan sikap kekuasaan, yaitu untuk menegakkan hukum teks apa adanya, meski dengan mengabaikan keadilan di masyarakat. Mereka yang harusnya menjadi saluran aspirasi masyarakat di parpol, nyatanya tak banyak berbicara bahkan tak lagi bisa diharap, termasuk di dalam kasus ini. Karena itu tidak heran masyarakat melangkah sendiri dan mengambil tindakan sendiri berupa gerakan sosial tadi.

Elemen yang seharusnya kritis juga telah pula dipaksa tutup mulut. Mereka adalah sebagian besar para cerdik cendekia plus ilmuwan yang harusnya menyatakan kebenaran keilmuan atas kasus-kasus ketidakadilan di masyarakat. Banyak ilmuwan dan ahli-ahli hukum kita hanya mematok diri pada kebenaran teks hukum semata, melupakan bahwa ada sesuatu yang mungkin terjadi di baliknya. Bahkan elemen ilmuwan hadir pula di lingkaran kekuasaan seolah memberikan kesegaran kepada kekuasaan untuk semakin rapi dalam membungkus argumentasi hukum terhadap siapapun termasuk Prita dan KPK. Para ilmuwan banyak yang telah menjadi tameng kekuasaan sehingga kekuasaan kini semakin minuskritik.

Masyarakat Kesepian Melihat hal di atas, masyarakat memang wajar merasa sepi. Masyarakat seolah ditinggalkan sendirian oleh aroma kekuasaan yang begitu kental terasa pada mereka yang harusnya berpihak kepada masyarakat. Karena itu, pantas kemudian ekspresi dukungan dan solidaritas mengalir begitu saja, tanpa ada yang mengendalikan, kepada Prita dan KPK. Untuk kasus Prita, satu orang saja dibutuhkan untuk meluncurkan ide mengumpulkan koin, dan untuk kasus KPK, satu orang saja juga dibutuhkan untuk membuat template dukungan melalui facebook. Segera setelah hal itu ada, maka mengalirlah ribuan bahkan jutaan dukungan.

Masyarakat yang ditinggalkan oleh para politisi dan elemen kritis itulah yang bergerak melintasi batas-batas, termasuk jarak, latar belakang dan usia. Satu-satunya yang sama adalah bahwa masyarakat sepakat untuk melawan sesuatu. Tua muda, kaya miskin, semuanya kemudian tumpah ruah, mengirimkan koin untuk Prita atau dukungan facebook kepada Bibit-Chandra.

Ini bukan masalah “menang-kalah”. Gerakan sosial masyarakat dalam kasus Prita dan KPK, bukan sebuah entitas yang tujuannya untuk menjatuhkan kekuasaan. Memang di masyarakat Eropa dan Amerika Latin, sejarah gerakan sosial bisa mengekskalasi menjadi revolusi. Tetapi di kita, belum mencapai tujuan demikian. Sebagaimana disampaikan sosiolog Imam B Prasodjo, gerakan sosial ini adalah simbol terhadap pemerintah dan penegak hukumnya supaya mereka tidak bertindak melampaui keadilan itu sendiri.

C. Kesimpulan
Kita mengingatkan pemerintah bahwa dua kejadian fenomenal ini hendaknya menjadi pembelajaran berharga. Gerakan sosial masyarakat yang terjadi secara spontan adalah modal politik yang sebenarnya begitu berharga. Gerakan sosial masyarakat ini adalah peringatan kepada pemerintah bahwa masyarakat butuh jalan lurus, bukan jalan berbelok dalam penegakan hukum, termasuk kepada rakyat kecil. Ini adalah peringatan bahwa pemerintah tidak hanya perlu berbicara soal keberpihakan pada masyarakat yang selalu saja didengung-dengungkan oleh pemerintah tetapi juga perlu memperlihatkan bukti yang nyata dan signifikan untuk tidak membela mereka yang tidak adil dan atau korup. Jika pemerintah tidak menjadikan ini sebagai pembelajaran, bukan tidak mungkin kisah gerakan sosial masyarakat ini terulang kembali, entah untuk tujuan apa, yang juga mungkin bisa melebar kepada persoalan lain yang tidak diperkirakan sebelumnya.

Tulisan ini adalah tulisan teman saya di JMSJ
EDO EKARIZKY FISIP – SOSIOLOGI Universitas Nasional

Senin, 22 Februari 2010

Trikotomi Geertz yang Monumental

Penelitian jenis antropologi yang dilakukan Clifford Geertz di Mojokuto mulai Mei 1953 sampai September 1954 ini menghasilkan konstruksi nalar Jawa yang sangat berpengaruh bagi perkembangan sosial, politik, dan budaya di Indonesia. Dalam laporannya, Geertz menyuguhkan fenomena Agama Jawa ke dalam tiga varian utama: abangan, santri, dan priyayi. Trikotomi Agama Jawa itulah yang sampai sekarang terus disebut-sebut dalam wacana sosial, politik, dan budaya di Indonesia dan menjadikannya referensi induk atas upaya ilmuwan sosial di belakangnya yang membedah tentang Jawa. Kekuatan utama Geertz mengungkap fenomena Agama Jawa adalah kemampuan mendeskripsikan secara detail ketiga varian tersebut dan menyusun ulang dalam konklusi hubungan konflik dan integrasi yang logis dan utuh atas ketiga varian tersebut.

Metode kerja yang dipakai Geertz dalam pengumpulan data-data selama penelitiannya di Mojokuto, kota kecil di Jawa Timur, adalah penguasaan bahasa lokal, pemanfaatan banyak informan local, pembagian tugas dengan tim peneliti lain, pendalaman topik-topik tertentu yang membutuhkan detail, dan pengumpulan data-data statistik. Dan bagian terbesarnya digunakan untuk kegiatan observasi-partisipatif. Prinsip kerjanya berdasarkan proposisi..bahwa ahli etnografi itu mampu mencari jalan keluar dari datanya, untuk membuat dirinya sendiri jelas agar para pembaca dapat melihat sendiri bagaimana tampaknya fakta-fakta itu, dan dengan demikian bisa menilai kesimpulan dan generalisasi ahli etnografi itu sesuai dengan persepsi aktualnya sendiri. Meskipun Jawa adalah Jawa yang stereotip penunjukannya jelas, namun perhatian Geertz mengungkap adanya varian agama Jawa lebih kepada adanya kompleksitas masyarakat Jawa.

Pengamatan Geertz tentang Mojokuto terkait profesi penduduk setempat, penggolongan penduduk menurut pandangan masyarakat Mojokuto berdasarkan kepercayaan, preferensi etnis dan pandangan politik, dan ditemukannya tiga inti struktur sosial yakni desa, pasar dan birokrasi pemerintah yang mencerminkan tiga tipe kebudayaan: abangan, santri dan priyayi. Struktur sosial desa “biasanya diasosiasikan kepada para petani, pengrajin dan buruh kecil- yang penuh dengan tradisi animisme upacara slametan, kepercayaan terhadap makhluk halus, tradisi pengobatan, sihir dan magi menunjuk kepada seluruh tradisi keagamaan abangan. Sementara pasar “terlepas dari penguasaan etnis Cina yang tidak menjadi pengamatan Geertz- diasosiasikan kepada petani kaya dan pedagang besar dari kelompok Islam berdasarkan kondisi historis dan sosial di mana agama Timur Tengah berkembang melalui perdagangan dan kenyataan yang menguasai ekonomi Mojokuto adalah mereka memunculkan subvarian keagamaan santri. Yang terakhir adalah subvarian priyayi. Varian ini menunjuk pada elemen Hinduisme lanjutan dari tradisi Keraton Hindu-Jawa. Sebagaimana halnya Keraton (simbol pemerintahan birokratis), maka priyayi lebih menekankan pada kekuatan sopan santun yang halus, seni tinggi, dan mistisisme intuitif dan potensi sosialnya yang memenuhi kebutuhan kolonial Belanda untuk mengisi birokrasi pemerintahannya.

Varian Abangan
Bagi sistem keagamaan Jawa, slametan merupakan pusat tradisi yang menjadi perlambang kesatuan mistis dan sosial di mana mereka berkumpul dalam satu meja menghadirkan semua yang hadir dan ruh yang gaib untuk untuk memenuhi setiap hajat orang atas suatu kejadian yan ingin diperingati, ditebus, atau dikuduskan. Misalnya kelahiran, kematian, pindah rumah, mimpi buruk, ganti nama, sakit, dll. Struktur upacaranya terdiri dari hidangan khas, dupa, pembacaan doa Islam, dan pidato tuan rumah yang disampaikan dalam bahasa Jawa tinggi yang resmi. Dan bagi kalangan abangan yang terdiri dari petani dan proletar, slametan adalah bagian dari kehidupannya.

Dalam tradisi slametan dikenal adanya siklus slametan: (1) yang berkisar krisis kehidupan (2) yang berhubungan dengan pola hari besar Islam namun mengikuti penanggalan Jawa (3) yang terkait dengan integrasi desa, bersih desa (4) slametan sela untuk kejadian luar biasa yang ingin dislameti. Semuanya menunjukkan betapa slametan menempati setiap proses kehidupan dunia abangan. Slametan berimplikasi pada tingkah laku social dan memunculkan keseimbangan emosional individu karena telah di_-slamet-_i.

Kepercayaan kepada roh dan makhlus halus bagi abangan menempati kepercayaan yang mendasari misalnya perlunya mereka melakukan slametan. Mereka percaya adanya memedi, lelembut, tuyul, demit, danyang, dan bangsa alus lainnya. Hal yang berpengaruh atas kondisi psikologis, harapan, dan kesialan yang tak masuk akal. Semuanya melukiskan kemenangan kebudayaan atas alam, dan keunggulan manusia atas bukan manusia. Gambarannya adalah kebudayaan orang Jawa berkembang dan hutan tropis yang lebat berubah menjadi persawahan dan rumah, makhlus halus mundur ke sisa belantara, puncak gunung berapi, dan Lautan Hindia.
Kalau kepercayaan mengenai roh dan berbagai slametan merupakan dua sub katagori daripada agama abangan, maka yang ketiga adalah kompleks pengobatan, sihir dan magi yang berpusat pada peranan seorang dukun. Ada beberapa macam dukun: dukun bayi, dukun pijet, dukun prewangan, dukun calak, dukun wiwit, dukun temanten, dukun petungan, dukun sihir, dukun susuk, dukun japa, dukun jampi, dukun siwer, dukun tiban. Masyarakat Mojokuto secara umum mengakui adanya dukun, namun apakah mereka percaya kepada kemampuan dukun merupakan masalah lain. Ada konsep lain yang menyertainya yaitu kecocokan (cocog).

Varian Santri
Mojokuto yang berdiri pada pertengahan akhir abad ke-19, jemaah muslimnya terkristal dalam latar abangan yang umum. Sementara mereka yang terdiri dari kelas pedagang dan banyak petani muncul dari utara Jawa memunculkan varian santri. Perbedaan yang mencolok antara abangan dan santri adalah jika abangan tidak acuh terhadap doktrin dan terpesona kepada upacara, sementara santri lebih memiliki perhatian kepada doktrin dan mengalahkan aspek ritual Islam yang menipis. Santri juga lebih peduli kepada pengorganisasian sosial umat di sekeliling mereka. Di Mojokuto, ada empat lembaga sosial yang utama; parpol Islam, sistem sekolah agama, birokrasi pemerintah/Depag, dan jamaah masjid/langgar. Keempatnya berpautan baik pada santri yang modern dan kolot. Ada tiga titik komunitas santri di Mojokuto: yakni petani santri desa yang kaya, pedagang kecil kota, dan keluarga penghulu/aristokrasi santri. Perbedaaan sosial inilah yang menyebabkan timbulnya konflik-konflik di antara mereka. Konflik itu dapat terpecahkan oleh kesamaan agama santri. Antara tahun 1953-1954, ada satu PSII yang menyisakan beberapa orang SI yang asli dan kerabat keluaraga, partai NU sebagai Orsos dan Parpol yang digabungkan dalam satu kesatuan organisasi yang agak lemah, Masyumi sedikit lebih baik dalam organisasi yang dipimpin orang Muhammadiyah, dan Muhammadiyah sendiri sebagai organisasi sosial.

Pembagian santri modern dan konservatif oleh Geertz didasarkan pada 5 perbedaan tafsir keduanya; kehidupan yang ditakdirkan lawan kehidupan yang ditentukan sendiri, pandangan yang totalistik lawan terbatas, Islam sinkretik lawan Islam murni, perhatian kepada pengalaman religius lawan penekanan aspek instrumental agama, pembenaran atas tradisi dan madzhab lawan pembenaran purifikasi secara umum dan pragmatis. Sehingga pandangan dunia santri kolot sebenarnya lebih dekat kepada abangan. Hubungan santri modernis dan konservatif lebih kepada penyikapan terhadap abangan. Jika modernis menekankan disasosiasi dan purifikasi dalam sebuah kelompok kecil pemimpin agama kaum konservatif mencoba mengambil jalan tengah yang selaras dengan tradisi yang berlaku.

Pandangan keagamaan santri modernis vis a vis konservatif mempolakan pengorga-nisasian politik yang sama. Ada Masyumi-Muhammadiyah dan PSII sebagai progresif-modernis dan NU yang konservatif. Jika NU mengalami konflik antara generasi mudanya yang terpelajar dan terpengaruh kota dengan kiai-kiai pedesaan yang lebih tua, sementara konflik dalam Masyumi-Muhammadiyah antara yang saleh dan sekuler atau mengatur agar Islam modernis tidak menjadi sekuler.

Untuk mempertahankan doktrin santri mereka mengembangkan pola pendidikan yang khusus dan terus menerus. Di antaranya pondok (pola santri tradisional), langgar dan masjid (komunitas santri lokal), kelompok tarekat (mistik Islam tradisonal) dan model sekolah yang diperkenalkan oleh gerakan modernis. Pertemuan antara pola pondok dan sekolah memunculkan varian pendidikan baru dan upaya santri memasukkan pelajaran doktrin pada sekolah negeri/sekuler.
Terkait ide negara Islam, santri konservatif memahaminya sebagai teokrasi di mana para kyailah yang berkuasa. Sementara modernis berpandangan ada jaminan non muslim tidak menjadi kepala negara dan konstitusi yang mencantumkan hukum harus sesuai dengan jiwa al-Quran dan Hadis dan menyerahkan pelaksanaannya pada pembuat Undang-undang. Geertz memandang Depag merupakan kompromi kedua santri terhadap keberadaan negara nasional. Pada akhirnya terjadi rivalitas kedua santri menguasai birokrasi di Depag.

Pola ibadat santri yang meliputi sembahyang, shalat Jumat dan puasa di Mojokuto dalam beberapa masalah masih terpengaruh oleh perbedaan santri modernis dan konservatif. Di antaranya persoalan khutbah, teraweh, tadarus dan akhir liburan puasa. Terkait shalat itulah yang secara tegas membedakan antara santri dengan abangan dan priyayi.

Varian Priyayi
Priyayi mewakili aristokrasi Jawa. Kebanyakan mereka berdiam di kota yang disebabkan ketidakstabilan politik dalam kerajaan masa pra-kolonial, karena filsafat mereka yang melihat ke dalam yang lebih menghargai prestasi mistik daripada keterampilan politik, upaya Belanda merangkul petani. Mereka adalah birokrat, klerk/juru tulis, guru bangsawan yang makan gaji. Priyayi asalnya adalah keturunan raja-raja besar Jawa yang tersisa merupakan hasil dari kehidupan kota selama hampir 16 abad., namun berkembang oleh campur tangan Belanda kepada kelompok instrumen administrasi pemerintahan.

Priyayi memandang dunia ini dengan konsep alus dan kasar. Alus menunjuk pada murni, berbudi halus, tingkah laku yang halus, sopan, indah, lembut, beradab dan ramah. Simbolnya adalah tradisi kromo-inggil, kain bagus yang alus, musik alus. Dan konsep alus ini bisa menunjuk apa saja yang semakna dengan alus. Lawan dari alus adalah kasar dan merupakan kebalikan dari alus, bahasa kasar, tingkah laku kasar. Konteks priyayi bertemu dengan abangan dalam hal alus dan kasar. Sementara titik kehidupan keagamaan priyayi berpusat etiket, seni dan mistik. Yang menggabungkan unsur ketiganya adalah rasa.
Ada empat prinsip pokok yang menjiwai etiket priyayi yakni bentuk yang sesuai untuk pangkat yang tepat, ketidak langsungan, kepura-puraan, dan menghindari perbuatan yang ngawur atau tak menguasai diri. Ada banyak cara yang ditunjukkan oleh priyayi untuk menunjukkan sesuatu namun tetap berpegang pada prinsip tadi. Hal ini yang mengesankan priyayi adalah kaku, bertingkat dan formal.

Priyayi menganggap bahwa wayang, gamelan, lakon, joged, tembang dan batik adalah perwujudan kesenian yang alus. Berbeda halnya dengan ludrug, kledek, jaranan, dan dongeng sebagai kesenian yang kasar. Dan kesenian itu mengekspresikan nilai-nilai priyayi. Tidak mungkin bagi priyayi Mojokuto (camat misalnya) mengundang ludrug untuk pesta pernikahan anaknya.

Pandangan dunia priyayi terhadap aspek religius disebut dengan mistik. Mistik yang dimaksud adalah serangkaian aturan praktis untuk memperkaya kehidupan batin orang yang didasarkan pada analisa intelektual atau pengalaman. Tujuan pencarian mistik adalah pengetahuan tentang rasa dan itu harus dialami oleh priyayi. Ritual yang dilakukan adalah bentuk tapa dan semedi dalam keadaan ngesti (menyatukan semua kekuatan individu dan mengarahkannya langsung pada tujuan tunggal, memusatkan kemampuan psikologis dan fisiknya ke arah satu tujuan yang sempit.

Sekte-sekte mistik Mojokuto dalam bentuknya yang formal mengambil anggota dari pejabat (wedana), aparat (mantri polisi), penilik sekolah, juru gambar dan sejenisnya dari kalangan priyayi.

Konflik dan Integrasi
Agama tidak hanya memainkan peranan yang integratif dan menciptakan harmoni sosial tapi juga peranan memecah masyarakat. Dengan demikian ketiga varian agama Jawa di Mojokuto itu mempunyai peranan yang saling kontradiksi. Geertz menyimpulkan:
  1. Ada banyak antagonisme diantara para pemeluk berbagai orientasi keagamaan; dan antagonisme ini mungkin sedang meningkat
  2. sekalipun ada perbedaan antagonisme, semua/hampir semua orang Jawa memegang nilai-nilai yang sama yang cenderung melawan efek memecah dari penafsiran-penafsiran yang berbeda thd nilai-nilai ini. Lagipula, ada berbagai mekanisme sosial yang cenderung mencegah konflik nilai mempunyai akibat-akibat yang mengganggu.
  3. faktor yang mempertajam konflik:
  • konflik ideologis yang hakiki karena ketidak senangan terhadap nilai-nilai kelompok lain.
  • Sistim stratifikasi sosial yang berubah dan mobilitas status yang cenderung untuk memaksakan adanya kontak diantara individu-individu dan kelompok-kelompok yang secara sosial dulunya sedikit terpisah
  • Perjuangan untuk kekuasaan politik yang makin meningkat secara tajam untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan pemerintiah kolonial yang cenderung untuk menyuburkan perbedaan-perbedaan agama dengan kepentingan politik
  • Kebutuhan akan kambing hitam untuk memusatkan ketegangan yang dibangkitkan oleh perubahan sistim sosial yang cepat
Hal-hal yang meredakan konflik antara lain termasuk:
  • Perasaan berkebudayaan satu, termasuk makin pentingnya nasionalisme, yang menitikberatkan pada kesamaan yang dipunyai orang Jawa (atau bangsa Indonesia) ketimbang pada perbedaannya
  • Kenyataan bahwa pola-pola keagamaan tidak terwujud secara langsung dalam bentuk-bentuk sosial, secara murni dan sederhana, melainkan dalam banyak cara yang berliku-liku, hingga janji keagamaan dan janji-janji lainnya “kepada kelas, tetangga, dsb- cenderung untuk seimbang, dan berbagai individu dan kelompok tipe campuran timbul, yang bias memanikan perantara.
  • Toleransi umum yang didasrkan atas suatu relatifisme kontekstual yang menganggap nilai-nilai tertentu memang sesuai dengan konteksnya dan dengan demikian memperkecil misionisasi.
  • Pertumbuhan mekanisme sosial yang tetap untuk bentuk-bentuk integrasi sosial yang pluralistic dan nonsinkretis dimana orang yang berasal dari berbagai pandangan sosial dan nilai dasar yang berbeda dapat bergaul dengan cukup baik satu sama lain dan menjaga agar masyarakat tetap berfungsi.
Ketegangan sosial antara ketiga varian itu adalah priyayi dan santri tidak sepakat dalam banyak hal, dan kebencian petani terhadap aristokarasi yang memerintah yang eksploitatif dan pedagang santri kota sudah berlangsung lama. Sementara ketegangan ideology abangan dengan priyayi diungkapkan lebih halus dibanding keduanya dengan santri. Untuk konflik kelas terjadi antara priyayi dengan abangan dengan tuduhan orang desa. Stratifikasi sosial masa setelah revolusi ini tidak sekaku masa kolonial dimana abangan dapat meraih status yang lebih tinggi karena prestasinya sudah terjadi dan karena abangan sudah lebih terorganisir.

Faktor yang mengintegrasi diilhami adanya keyakinan semua varian tentang ide kerukunan dan memakai simbol slametan, kepercayaan yang berbeda adalah relativ (tidak memaksa jika tidak cocog), saling kecocokan (cocog) diantara mereka jika dibandingkan dengan orang Cina atau Eropa, adanya nasionalisme dan proyeksi kebudayaan bersama yang baru, tidak selalu liniernya perubahan sistim tiap varian, adanya toleransi dan integrasi sosial yang pluralistic, munculnya hari-hari besar nasional dan hari 1 Mei dan 17 Agustus, dan faktor pemersatu yang menghilangkan semua perbedaan ketiga varian karena ketiganya merasa memiliki faktor itu adalah Riyaya. Yakni hari besar Jawa (dan Indonesia) akhir libur puasa.

Penutup

Membaca laporan Geertz nampak adanya pertautan yang kuat antar setiap varian. Mungkin hal ini terkait kompleksitas individu dalam kelompok dan tidak adanya komunitas yang benar-benar terpisah yang mewakili varian itu. Ditemukan misalnya orang abangan yang santri, begitu juga santri yang priyayi dan abangan yang priyayi, juga misalnya ada dukun abangan, dukun priyayi. Kemampuannya mengungkap secara detail objek yang dikaji, di samping orisilitas temuannya menjadikan kekuatan laporan penelitian Geertz ini. Di tangan dialah teori trikotominya bermula.
(Telaah dari buku "Religion of Java" karya Cliford Geertz)

Poros Sakral Kota Jogja

Poros Sakral Kota Jogja: Pantai Selatan - Panggung Krapyak - Kraton - Tugu - Gunung Merapi

Sejarah berdirinya Kraton Jogja yang kemudian menjadi kota Jogja, tidak digambarkan dengan bangunan monumental yang megah, melainkan poros historis "Krapyak-Keraton-Tugu". Di mana struktur kota Jogja memiliki simbol yang berdasar pada garis filosofis imajiner.
Jogja pada umumnya memiliki empat komponen utama. Bentuk seperti ini disebut caturgatra tunggal atau empat komponen dalam suatu kesatuan. Keempat komponen itu adalah kraton, masjid, alun-alun, dan pasar. Kawasan Jeron Beteng (dalam beteng) yang dikelilingi Beteng Baluwarti (beteng pagar bata) mempunyai lima pintu gerbang yang disebut plengkung. Nama-nama kampung di Jeron Beteng biasanya menunjuk pada nama abdi dalem keraton yang tinggal di situ. Banyak pusaka budaya dan pusaka alam yang berharga di sini. Umumnya warga Jogja sendiri sudah memahami makna struktur kota yang memiliki filosofis simbolis yang berdasar pada garis imajiner Gunung Merapi - Tugu - Keraton - Panggung Krapyak - Laut selatan.
Kelengkapan fisik, sarana, prasarana, estetik, etik, simbol, dan filosofis-religius eksistensinya mempunyai keterkaitan dengan berbagai rancangan sebagaimana fungsi dan maknanya. Ciri-ciri dan makna tersebut pada dasarnya melekat dalam elemen bangunan, ruang suatu bangunan, bangunan, kelompok bangunan, maupun lingkungannya. Jogja sebagai kota yang mempunyai ciri khas dan keunikan, secara khusus mempunyai struktur bermakna filosofis-simbolis, yaitu berdasarkan garis imajiner yang diyakini membentuk garis lurus.
Konfigurasi fisik poros sakral di dalam tata rakit kraton tersebut merupakan suatu bagian dari tata Kota Jogja. Secara historis-kultural bangunan-bangunan yang ada berorientasi pada keberadaan kraton, yaitu berada di dalam benteng dan lingkungan sekitarnya. Bangunan yang ada pun bercorak arsitektur jawa, antara lain berupa joglo, limasan, dan kampung. Penggalian pusaka Jeron Beteng dilakukan sebagai pelestarian peninggalan budaya untuk memperluas makna kraton sebagai simbol penting dari peninggalan budaya Kesultanan Jogja.
Proses interaksi sosial budaya masyarakat di dalam kota melahirkan kompleksitas produk budaya, baik budaya material (material culture) maupun budaya hidup (living culture) yang berupa pranata sosial, seni, adat-istiadat, etik, estetik, dan filosofis-religius. Wujud kompleksitas produk budaya pada satu sisi akan dijiwai dan sesuai dengan konteks, langgam, dan ikatan budayanya, di sisi lain juga memunculkan kemajemukan atau keragaman tinggalan budaya.

Selasa, 27 Oktober 2009

Agama dan Perilaku politik

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Agama didefinisikan sebagai seperangkat atauran dan peraturan yang mengatur hubungan mengatur hubungan manusia dengan dunia ghaib, khususnya dengan Tuhannya, mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan mengatur hubungan manusia dengan lingkungannya. Agama mempunyai penganut – penganut yang percaya pada kebenaran – kebenaran yang dibawa oleh agama. Kehidupan manusia akan diatur sesuai dengan apa yang diperintahkan dan dilarang oleh agama. Dalam hal ini agama sangat mempengaruhi manusia untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Agama menjadi sebuah ikon bagi masyarakat untuk diikuti dan dituruti segala yang diperintahkan. Sehingga sering terjadi fenomena khususnya di Indonesia, bahwa segala bentuk tindakan, organisasi, dll yang dilatarbelakangi agama akan mendapat perhatian yang lebih dari masyarakat khususnya masyarakat agama baik dibidang sosial , budaya, ekonomi, maupun politik.
Dan yang menarik lagi sekarang ini banyak sekali partai politik yang melandaskan gerakan politiknya dengan asas agama. Hal ini menjadi menarik karena mengingat bahwa masyrakat Indonesia merupakan masyarakat yang beragama. Oleh sebab itu penulis tertarik untuk membuat makalah dengan judul “ Pengaruh Agama dalam Perilaku Politik”.

B. Rumusal Masalah
Dari latar belakang di atas, rumusan masalahnya adalah:
1. Bagaimana pengaruh Agama dalam perilaku politik?

C. Tujuan
1. Mengetahui pengaruh Agama dalam perilaku politik.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Agama
Agama didefinisikan sebagai seperangkat atauran dan peraturan yang mengatur hubungan mengatur hubungan manusia dengan dunia ghaib, khususnya dengan Tuhannya, mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan mengatur hubungan manusia dengan lingkungannya. Agama juga didefinisikan sebagai suatu sistem keyakinana yang dianut dan tindakan – tindakan yang diwujudkan oleh suatu kelompok atau masyarakat dalam menginterpretasi dan memberi respons terhadap apa yang dirasakan dan diyakini sebagai yang ghaib dan suci.
Agama menpunyai penganut – penganut yang percaya pada kebenaran – kebenaran yang dibawa oleh agama. Kehidupan manusia akan diatur sesuai dengan apa yang diperintahkan dan dilarang oleh agama. Dalam hal ini agama sangat mempengaruhi manusia untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Agama menjadi sebuah ikon bagi masyarakat untuk diikuti dan dituruti segala yang diperintahkan. Sehingga sering terjadi fenomena khususnya di Indonesia, bahwa segala bentuk tindakan, organisasi, dll yang dilatarbelakangi agama akan mendapat perhatian yang lebih dari masyarakat khususnya masyarakat agama baik dibidang sosial , budaya, ekonomi, maupun politik.

B. Arti Politik
Untuk memahami arti dari politik dalam literatur yang banyak berkembang di Barat, pendekatan legalitas sering digunakan. Politik diartikan sebagai urusan yang ada hubungan lembaga yang disebut negara. Pemerintahan diartikan politik. Inilah pengertian politik yang paling umum dan kentara. Sehingga belajar tentang ilmu politik berarti belajar mengenai lembaga-lembaga politik, legislatif, eksekutif dan yudikatif. Inilah definisi yang sampai sekarang masih tetap bertahan.
Namun definisi bahwa politik adalah negara tidak bisa menggambarkan dinamika dalam kehidupan politik itu sendiri. Kalau studi politik hanya mempelajari institusi itu maka tidak bisa menjelaskan mengapa institusi itu ada dan bagaimana proses sampai menjadi lembaga itu seperti parlemen, pengadilan, pemerintahan. Pengertian kelembagaan juga tidak dapat menjelaskan prose pengambilan keputusan di eksekutif misalnya. Definisi yang menekankan legalitas gagal menjelaskan kehidupan politik yang sebenarnya. Jadi kalau misalnya membicarakan.
Oleh sebab itulah berkembang definisi politik sebagai constrained use of social power (Goodin and Klingemann,1998). Oleh karena itu maka baik studi politik maupun praktek politik beralih menjadi studi mengenai sifat dan sumber keterbatasannya serta teknik-teknik menggunakan kekuasaan sosial di dalam keterbatasannya itu.
Dalam mengartikan “power” atau kekuasaan maka pandangan ilmuwan Robert Dahl bisa digunakan di sini. Jadi X memiliki power terhadap Y jika 1) X mampu dengan berbagai cara Y melakukan sesuatu 2) yang disukai X dan 3) Y tidak memiliki pilihan lain untuk melakukannya.
C. Agama sebagai rujukan politik
Di dalam perpolitikan Indonesia, Agama menjadi salah satu rujukan signifikan dalam setiap sikap dan perilaku masyarakat Indonesia. Fenomena tersebut, tampaknya, tidak disia-siakan kaum politisi. Dari perjalanan sejarah politik di Indonesia, para politisi dari beragam ideologi selalu menjadikan agama sebagai pertimbangan untuk mengembangkan kebijakan politik mereka. Dalam hal ini, politisi yang berlatar belakang agama dengan ideologi kanan mendirikan partai agama dan yang berlatar belakang agama substantif mengusung nilai-nilai ajaran agama yang dikemas dalam partai terbuka. Sementara itu, politisi "nasionalis" yang sering dianggap sekuler juga tidak mau ketinggalan.
Dalam kiprah mereka di partai politik "nasionalis", mereka juga mendirikan lembaga keagamaan dengan tujuan mendukung politik mereka dari sisi keagamaan, termasuk upaya mendulang suara pada saat pemilu di daerah-daerah yang keagamaannya kuat. Bahkan, akhir-akhir ini, kalangan politisi dan agama mulai memperkuat jalinan silaturahmi melalui pertemuan yang kian intens dari saat ke saat. Tujuannya, tentu untuk menggalang kekuatan menghadapi Pemilu 2009.
Strategi para politisi untuk menjadikan agama sebagai dasar pengembangan politik tentu merupakan sesuatu yang sangat positif. Melalui upaya itu, nilai-nilai agama diharapkan mampu diejawantahkan dan dilabuhkan ke ruang publik sehingga kehidupan bangsa bisa mencerminkan moralitas luhur dari berbagai aspeknya. Namun, hal itu akan menjadi sesuatu yang naif jika pengusungan agama ke ranah politik dan ruang publik sekadar bersifat simbol dan atribut formal. Apalagi pembumiannya bernuansa primordialistik dan sektarianistik yang berpotensi menggerogoti solidaritas dan persatuan bangsa.
Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa agama menjadi daya tarik sendiri bagi perilaku politik masyarakat di Indonesia. masyarakat akan merasa nyaman bila memilih partai politik yang mempunyai kesamaan keyakinan dengan masyrakat.
Di Indonesia, perilaku pemilih merupakan topik kajian yang relatif baru. Ini disebabkan demokrasi bukanlah gejala yang dominan dalam sejarah politik kita. Indonesia pernah punya pemilu demokratis pada tahun 1955, tapi studi tentang perilaku pemilih secara sistematis belum berkembang waktu itu. Karena studi perilaku pemilih belum berkembang, studi yang lebih deskriptif lebih menjadi tumpuan. Salah satunya adalah temuan Clifford Geertz tentang politik aliran dan perilaku pemilih Indonesia. Menurut Geertz, aliran abangan cenderung memilih PNI dan PKI, santri memilih partai-partai Islam seperti Masjumi, Partai NU, Perti, dan PSII. Di dalam aliran santri ini ada semacam sub-aliran, yakni santri modernis dan santri tradisionalis. Yang pertama menjadi dasar kultural bagi dukungan terhadap Masjumi, sedangkan yang kedua terhadap Partai NU. Sekarang ini juga hampir sama, masyarakat muslim NU cenderung akan memilih PKB yang memang didirikan oleh intelektual NU dengan tokohnya Gus Dur. Demikian juga dengan PAN, walaupun tidak menyatakan partai muhammadiyah tapi salah satu tokohnya yaitu Amien Rais pernah menjadi Ketua Muahammadiyah sehingga warga muhammadiyah akan cenderung memilih PAN.
D. Gerakan Politik Agamis PKS
PKS merupakan hasil dari transmisi gerakan Ikhwanul Muslimin di Indonesia yang telah menghasilkan gerakan dakwah yang dikenal dengan gerakan tarbiyah. Gerakan Ikhwanul Muslimin adalah sebuah gerakan Islamisme atau gerakan yang menganggap Islam tidak hanya sebagai agama tetapi sekaligus ideologi politik (Roy, 1992). Gerakan tarbiyah muncul sejak tahun 1970-an dengan pusat perkembangan utamanya adalah di kampus-kampus dan sekolah-sekolah dan terus berlangsung hingga sekarang.
Setelah Soeharto lengser tahun 1998, gerakan tarbiyah berkembang menjadi partai politik Islam dengan mendirikan Partai Keadilan (PK) yang kemudian berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tahun 2001. Meski telah bertransformasi menjadi partai politik, metode pembinaan yang digunakan PKS tetap mengacu pada sistem pengkaderan dakwah tarbiyah yang telah mengakar di sekolah dan kampus tersebut. Bahkan PKS sendiri secara resmi menjadikan lembaga dakwah kampus (LDK) dan lembaga dakwah sekolah (LDS) sebagai sumber rekruitmen peserta tarbiyah yang dilakukan melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh lembaga dakwah tersebut (Tim Kaderisasi PKS, 2003). Secara tidak langsung suksesnya perkembangan dakwah tarbiyah di sekolah dan kampus telah memberikan keuntungan politik bagi PKS yaitu dukungan kader tarbiyah terhadap PKS dengan pencitraan partai dakwah.
Kegiatan tarbiyah kaderisasi PKS dapat dikatakan sebagai sebuah proses sosialisasi politik keagamaan karena dengan mengikuti kegiatan tarbiyah, baik sebelum dan setelah berdirinya PKS, memungkinkan individu untuk mendapatkan pengetahuan dan orientasi politik disamping mendapatkan pengetahuan agama. Misalnya, beberapa prinsip pemikiran Ikhwanul Muslimin yang disosialisasikan dalam gerakan tarbiyah adalah Islam merupakan ajaran bersifat totalitas yang tidak memisahkan satu aspek dengan aspek lainnya. Hal ini memperjelas bahwa PKS merupakan partai yang berbasis Islam yang mayoritas di pilih oleh muslim yang dapat dikategorikan pelajar. Jadi tidak salah kalau sekarang ini PKS dapat dikatakan sedang naik daun. Dengan simbol – simbol keagamaan dan loyalitas keislamannya menjadikan partai ini sekarang mulai banyak dilirik oleh masyarakat muslim yang dalam kategori Geertz masyrakat muslim modernis (intelektual).
Hal ini menunjukan perilaku politik masyarakat masih dipengaruhi oleh faktor – faktor agama.

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa bagi masyarakat Indonesia agama mempunyai pengaruh tersendiri dalam melakukan tindakan politik. agama menjadi salah satu faktor bagi masyarakatnya untuk memilih partai politik. Banyaknya partai politik juga mengindikasikan bahwa agama juga menjadi strategi bagi partai politik untuk memperoleh dukungan dari masyrakat. Sekarang ini partai yang mengatasnamakan nasionalis juga mulai melakukan pendekatan terhadap tokoh agama dll. Yang dimaksud untuk mencuri perhatian masyarakat. Jadi baik partai agamis maupun nasionalis sekarang berlomba – lomba mencari perhatian masyarakat yang kebanyakan beragama.

B. Saran
Dari simpulan di atas sebaiknya partai politik tidak hanya menggunakan agama sebagai alat untuk mencari massa tapi juga benar – benar menjunjung tinggi prinsip kebaikan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Rabu, 27 Mei 2009

Lunturnya Nasionalisme oleh Uang

Melihat performa tim bulutangkis yang mulai stagnan sungguh menyedihkan. Indonesia selama bertahun-tahun menjadi raksasa dunia, sekarang sudah mulai kehilangan tajinya. Namun, yang paling menyedihkan di saat pemain Indonesia butuh pengembangan, justru malah kehilangan seorang pelatih sekelas Hendrawan. Y…lagi- lagi Malaysia sang tetangga yang mengaku saudara dengan uangnya berhasil membeli pelatih-pelatih Indonesia. Apakah Malaysia begitu bodoh sehingga tidak ada pelatih berkualitas???
Sedih, marah, memang kita rasakan ketika uang telah membeli nasionalisme terhadap bangsa. Rasionalisme sebagai alasan mereka ( Hendrawan_red ) untuk memilih uang dari pada membangun kejayaan bangsa.
Kalau begini terus lama – lama andalan Indonesia dibeli semua oleh Malaysia. Malaysia, tidak cukupkah kalian mencuri kekayaan Indonesia, tidak cukupkah kaliah mencaplok pulau Indonesia, tidak cukupkah kalian membeli TKI untuk jadi pekerja. Sekarang kalian sedikit demi sedikit membeli nasionalisme pahlawan bulutangkis negeri tercinta ini. Apa maumu??? Ingin membeli bangsa ini??
Kepergian Hendrawan mudah – mudahan tidak lagi di ikuti oleh yang lain. Nasionalisme harus tetap membara dan harus kita junjung tinggi di atas segala – galanya termasuk uang. Menangis rasanya kalau founding father kita Bung Karno melihat anak – anak Indonesia sudah terbudaki oleh uang dari pada nasionalisme. Malaysia, go to hell with your money!!!!

Jumat, 08 Mei 2009

Struktur masyarakat jawa perkotaan

Setelah berakhirnya perang dunia II, orang jawa yang tinggal diperkotaan umumnya terbagi kedalam tiga lapisan sosial yaitu: 1. Golongan orang biasa dan pekerja kasar, 2. Golongan pedagang, dan 3. Golongan pegawai pemerintahan. Sebelum perang dunia II di yogyakarta dan surakarta masih ada satu golongan sosial lain yaitu kaum bangsawan Jawa.
Golongan pekerja kasar ( orang biasanya menyebut tiyang alit ) merupakan jumlah terbanyak dari seluruh penduduk kota. Tiyang alit ini meliputi pedagang kecil, buruh kecil, dan tukang yang banyak ada di pasar. Kebanyakan penduduk kota di atas tinggal di daerah miskin kota.
Golongan yang kedua yaitu pedagang dimana pedagang sendiri ada bermacam – macam. Dalam hal masyarakat jawa, pedagang pribumi yang berada di kota-kota Jawa sering disebut sodagar . pedagang pribumi biasanya mengisi sektor – sektor yang belum digarap oleh orang Tionghoa, yaitu perdagangan tengkulak hasil bumi seperti tembakau, serta komoditi lain seperti tekstil, kerajinan rumah tangga dll. Ada juga sodagar yang memilii usaha yang lebih besar seperti perusahaan batik tulis, serta ada juga yang mendirikan perusahaan rokok kretek.
Sodagar jawa sendiri ada yang menarik terutama dari studi yang dilakukan oleh C. Geertz dimana ada sebuah istilah sodagar kauman. Hal ini sangat dipengaruhi oleh unsur agama, dimana sodagar kauman merupakan pedagang jawa terutama yang sangat taat kepada agama Islam, selain itu pandangan hidup mereka juga didasari oleh agama itu. Mereka rajin sembahyang lima waktu, sembahyang Jumat, tidak mekan babi, tidak mengadakan slametan seperti priyayi, dan bercita – cita untuk naik haji ke Mekkah.
Kelas yang paling tinggi adalah golongan pegawai negeri yang umumnya tinggal di pusat kota, dan sering disebut priyayi. Priyayi sendiri sebelum Perang Dunia II dibedakan antara priyayi Pangreh Praja dan priyayi bukan Pangreh Praja. Pangreh praja adalah para pejabat Pemda, dimana mereka orang-orang terpenting dan paling tinggi gengsinya diantara para priyay ilainnya. Sementara yang bukan Pamreh Praja adalah golongan orang – orang terpelajar yang berasal dari pedesaan serta tiyang alit di kota yang berhasil menjadi pegawai negeri melalui pendidikan.
Sebelum PD II ada suatu golongan priyayi yang terpandang secra khusus yaitu pegawai pemerintahan serta orang profesional yang punya gelar perguruan tinggi, seperti dokter, pengacara dll. Mereka pada waktu itu sangat terpandang karena jumlahnya yang masih sangat sedikit. Namun sekarang ini orang seperti mereka yang disebut diatas tidak lagi memiliki kedudukan yang istimewa seperti dulu, karena jumlah merekan yang sudah sangat banyak.
Dari keluarga priyayi sendiri, mereka mempunyai pola kehidupan yang diturunkan serta disosialisasikan kepada keturunannya. Dimana di dalam keluarga priyayi, anak mempunyai arti tersendiri. Anak mereka anggap membawa kehangatan serta kebahagiaan dalam keluarga. Selain itu fungsi ekonomi anak juga mejadi amat penting dimana anak menjadi jaminan hari tua. Dalam keluarga priyayi yang mempunyai gaji tetap biasanya mempunyai banyak anak, karena merupakan lambang gengsi juga. Unsur gengsi inilah yang selama ini menghambat suksesnya program keluarga berencana terutama pada keluarga priyayi.
Selain itu bahasa yang biasa digunaka para priyayi biasanya menggunakan bahasa krami yang menjadi bahasa resmi.
Sementara, mengenai masalah kehamilan dan kelahiran keluarga priyayi boleh dikatakan sering melakukan upacara – upacara. Diman pada usia kandunga tujuh bulan, mereka mengadakan upacara mitoni. Upacara ini mereka lakukan diantaranya untuk menitikberatkan pada aspek agama. Namun menurut saya justru hal –hal seperti itu tidak ada dalam tuntunan agama.
Menarik lagi mengenai keluarga priyayi, yaitu dalam hal pemberian nama pada anak. Mereka sebisa mungkin menghindari nama – nama yang berbau dusu, seperti suminem, tuminah, dll. Mereka lebih senang dengan nama yang berbau ningrat. Kalau tidak, mereka lebih senang memberi nama yang terlihat lebih nasional seperti Kartika Dewi, Dewi Sawitri, dll.
Namun dalam priyayi kauman, mereka lebih senang menggunakan nama arab seperti Muhammad, Dahlan, Aisyah, Maimunah, dll.
(malik, sosant_06)