Tampilkan postingan dengan label Celotehan diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celotehan diri. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 November 2011

Lalu kenapa 11-11-11?

Hari ini ketika membuka twitter dan facebook angka 11-11-11 menjadi topik pembicaraan paling populer. Akupun hanya tersenyum kecil (agak sinis sebenarnya) sembari berkata lirih dalam hati “opo iki” eh tapi ngomongnya “ana apa kye”(ngapak.com). Ya...ada apa ini kok angka 11-11-11 banyak muncul di time line Facebook dan Twitter seperti sampah saja. Ya...informasi yang berlebihan itu sama dengan informasi sampah. Ups...cukup. Ternyata baru sadar bahwa hari ini adalah tanggal 11 bulan november tahun 2011, dan banyak orang dengan tidak mengindahkan tata tulis dan kaidah bahasa Indonesia yang benar menggantinya dengan menulis 11-11-11. Pertanyaanya, Lalu kenapa dengan 11-11-11? Bukankah itu angka biasa saja, bukankan itu hari biasa saja. Bukan hari pahlawan, hari besar agama, atau hari suci yang lainya? *mikir lagi...
Usut punya usut setelah melalui penyelidikan ala detektif Conan, ternyata banyak manusia yang percaya bahwa 11-11-11 punya keunikan, keberuntungan, dan bla..bla..bla. Sehingga pada tanggal itu banyak yang menikah, banyak yang mencari pacar/pasangan, dan ekstrimnya lagi ada juga anak yang masih dalam kandungan dipaksa untuk keluar pada tanggal 11-11-11. Tapi ngga ada yang mempercepat kematian jadi tanggal segitu ya. Hehehe...

Minggu, 19 Desember 2010

Antropologi cinta

Antropologi cinta, Istilah yang mengada-ada dan memang saya ada-adakan. Antropologi sendiri merupakan ilmu tentang manusia dan kebudayaannya, sementara cinta adalah uraian perasaaan tentang kasih, sayang. Cinta mau tidak mau, suka tidak suka merupakan hal yang menarik dan indah untuk dimaknai. Setiap manusia punya cinta walaupun kadarnya berbeda-beda. Orang-orang seperti Hitler skalipun memiliki cinta.
Cinta tidak saja dimaknai dengan lawan jenis, namun kepada sesame jenis, sesame manusia dan cinta terhadap bangsa, Negara dll.

Cinta yang sekarang menjadi pusat perhatian adalah cinta terhadap sesama manusia khususnya terhadap lawan jenis. Adalah sebuah naluriah yang manusiawi bila seseorang memiliki cinta dan menjatuhkan cinta pada seseorang lain. Cinta menciptaan kedamaian, cinta membawa ketenangan, cinta membawa kegembiraan.
Namun apa yang terjadi dewasa ini, terkadang karena cinta seseorang bertengkar, saling membunuh, dll dan akhirnya cinta berubah menjadi suatu kebencian. Proses ini mau tidak mau dipengaruhi oleh proses budaya dengan berbgai perubahannya. Perubahan budaya ketimuran yang mulai dipengaruhi budaya barat, paham kesetaraan gender, dll juga mempengaruhi pemaknaan cinta. Masuknya budaya kapitalis dan konsumeris terkadang mempengaruhi cinta. Dahulu cinta dilakukan dengan ketulusan saling memberi, rela susah asal saling cinta, namun sekarang cinta juga membutuhkan uang. Uang akan mempengaruhi kadar cinta seseorang, sehingga ketika uang habis maka boleh jadi cinta juga menipis, karena proses untuk mengkonsumsi berkurang, inilah realita cinta dalam budaya konsumeris

Minggu, 03 Oktober 2010

NAMA TUHAN DI SEBUAH KUIS


SEBUAH kuis televisi memberi pertanyaan sebagai berikut: apakah si anu adalah menteri tertua dalam kabinet anu. Pertanyaan ini segera membingungkan peserta kuis. Mimik kebingungannya jelas sekali. Dalam kebingungan itulah dia menenteramkan diri dengan bacaan basmallah: bismillah, dengan nama Allah.

Jika diteruskan maksud si penjawab ini tentu akan bermakna sebagai berikut: dengan nama Allah, semoga jawaban saya ini benar. Jika diteruskan lagi, jawaban itu akan bertambah menjadi: dengan nama Allah, semoga jawaban saya ini benar, meski saya ngawur. Meski ngawur yang penting nama Allah sudah saya sebut.

Karena saya percaya, Allah Maha Pengasih dan Penyayang serta Maha Pemurah. Meski saya benar-benar tidak tahu karena saya tidak cukup ilmu untuk menebak umur pak menteri ini, apalagi mendata umur semua menteri dalam kabinet, maka sebaiknya saya serahkan urusan ini langsung kepada Allah yang Maha Tahu dan Maha Melihat. Untuk itulah nama Allah perlu saya bawa-bawa dalam kuis ini. Kuis berhadiah lagi! Begitu barangkali peta bawah sadar si penjawab.

Selasa, 20 Juli 2010

KOK GINI YA....

Kok gini…
Melihat fenomena belakangan di negeri tercinta ini, ckup membuat hati ingin bertanya – tanya terus. “Ada apa ini???
Negeri yang kaya akan sumber daya ala mini justru banyak dirundung masalah dan kesulitan. Masalah korupsi masih belum tuntas, masalah century entah kemana baunya, masalah mafia hukum selalu bertele – tele. Apa jadinya negeri ini dengan masalah itu.
Namun belum tuntas semua maslah diatas, muncul lagi masalah yang pelik lagi. Kasus konversi minyak tanah ke gas LPG yang awalnya digembar-gemborkan akan membuat masyarakat lebih mudah, sekarang ternyata hal itu mendatangkan malapetaka. Sekarang banyak kasus terjadi tabung gas meledak, banyak korban yang berjatuhan yaitu masyarakat. Kontak hal ini seakan membuat masyarakat resah dengan masalah tersebut. Masyarakat menjadi takut menggunakan gas LPG lagi. “Ya jelas takut, hal itu bagaikan membawa bom ke rumah sendiri”. Hal itu saya katakan “terorisme gaya baru”. Jadi tidak usah menakut-nakuti masyarakat dengan terror bom dan berbagai ancaman, namun dengan meladaknya tabung gas LPG ini masyarakat seakan telah menyimpan teroris didalam rumah sendiri, jadi ketakutan itu akibat terror yang ada dalam rumah. Apa jadinya kalau dirumah ada teroris??? Takut seumur hidup. Ah… kasus…kasus…
Masalah lagi sekarang ini harga pangan semakin naik. Semua bahan pokok melambung tinggi harganya. Lah…ketika harga normal saja, masih banyak yang kesusahan, apalagi harga menjadi naik, apa yang terjadi?? Ya jelas, yang merasakan kesusahan juga semakin baik. Ironis sekali memang, dinegeri yang subur, kaya seperti ini masyarakat masih kesusahan dengan pangan. Apa yang kemudian dilakukan pemerintah melihat hal ini??? Rapat…rapat…dan rapat terus, kapan bertindaknya??? Apa memang Negara ini sudah jadi ekonomi pasar, yang semuanya diserahkan pada pasar??? Lha kalau begitu mana nilai pancasilanya??? Katanya Indonesia menganuat ekonomi pancasila??? Kalu iya harusnya mampu mengatur sedemikian rupa sehingga masyarakat tidak kesusahan. Kalau hanya membuat rakyat tidak kesusahan pangan saja tidak bisa, apalagi menyejahterakan kehidupan bangsa. Ah…kok gini Indonesiaku.
Ada lagi…

Senin, 22 Februari 2010

Aku merenung

Sedikit Merenung…….????????
Perjuangan menjadi seseorang memang sangat susah. Butuh perjuangan dan pengorbanan untuk mendapatkannya. Itulah yang sekarang saya rasakan, ketika ingin berjuang mencapai cita-cita yang selama ini saya dambakan. Ya……memang pada awalnya begitu banyak orang yang mempertanyakan keputusan saya, keputusan memilih sosiologi. Begitu banyak orang yang meragukan saya apakah akan bisa survive dengan memilih jurusan itu, karena siapa yang tahu sosiologi, mau kemana sosiologi, masa depan apa yang kamu harapkan dari sosiologi??? Itulah mungkin yang sering saya dengarkan, terutama dari orang – orang dekat saya. Sedih rasanya medengar semua itu, bingung rasanya menjawab pertanyaan itu. Namun rasa itu dan jawaban apapun saya percaya tidak akan menghilangkan pertanyaan – pertanyaan itu.
Dalam hati hanya ku jawab “ suatu saat akan kubuktikan “. Itulah jawaban sementara yang ada dihatiku.
Namun jawaban itu tergantung pada diri saya. Apakah saya bisa membuktikannya ataukah justru saya semakin dipersalahkan karena memilih jurusan itu.
Perjuangan dan rasa ingin tahu yang saya andalkan untuk mencapai tujuan. Membaca suatu ketika menjadikan kita akan betapa dasyatnya sosiologi, betapa hebatnya sosiologi. Namun apalah arti mengagung – agungkan sosiologi ketika kita tidak mau mempelajari dan mendalaminya. Terkadang kita hanya bersembunyi dibalik ketakutan dan kekhawatiran akan masa depan yang akan kita dapatkan dari sosiologi, dan saya rasa itulah yang salah. Kita jangan sampai mengagung-agungkan sosiologi ketika kita belum belajar dan mengkajinya.
Saya terkadang heran juga terhadap kawan – kawan di Sosiologi tempat saya mencari ilmu. Merekan begitu bangga dengan sbutan anak sosiologi, namun tidak banyak yang benar – benar menyukai sosiologi dalam arti mempelajari dan mengkajinya. Mereka hanya bangga akan euphoria yang ada di sosiologi.
Marilah kawan – kawanku semua, buktikan bahwa sosiologi bukan kelas dua, namun segaia suatu disiplin ilmu yang mempunyai daya tawar yang sejajar dengan keilmua lain dan hal itu bisa dibuktikan dengan kemampuan orang – orang yang mempelajarinya.
Buatlah suatu kebebasan dalam diri sebagaimana para revolusioner macam Ernesto “Che” Guevara dan perjuangan kelas Karl Marx.