Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 November 2011

Beck, ini cerita Indonesia…

Saat ini pemain sepakbola paling popular di dunia yaitu  David Beckham berkunjung ke Indonesia bersama klubnya L.A Galaxy. Bisa kita bayangkan media serta masyarakat sangat antusias dan gembira menyambutnya. Media bahkan hamper tiap jam memberitakan kedatangan Beckham dan timnya ke Indonesia, mulai dari berita sampai infotainment pun juga menanyangkanya. Ya…seperti sebelum-sebelumnya Indonesia selalu heboh ketika kedatangan bintang dari luar negeri. Inilah Indonesia, negeri kita tercinta, negeri yang dahulu di serukan Soekarno untuk mempunyai jati diri.
seperti biasanya, ketika ada artis, atlek dunia, bahkan pemimpin dunia, mereka selalu bilang Indonesia adalah negeri yang indah, negeri yang kaya. Dan itu membuat kita kadang begitu bangga di puji mega bintang dari luar negeri. Ya…sebagai pecinta sepakbola, saya pun senang ketika Beckham datang atau siapapun bintangnya pasti akan ikut gembira bila kita dikunjungi. Kembali lagi, seperti yang saya tulis diatas bahwa banyak sanjungan yang terkadang dikeluarkan oleh orang asing (atlet, artis, pemimpin, atau turis Negara lain) kepada Negara kita Indonesia. Entah itu ucapan yang sesunguhnya keluar dari hati mereka, atau ucapan pemanis penuh basa – basi biar orang Indonesia senang. Entahlah…
Jikalau bisa terjadi, ingin aku ceritakan negeriku tercinta ini kepadamu Beck, biar tahu Indonesia bukan dari media, atau dari pemimpin negeri ini saja

Minggu, 02 Oktober 2011

Pancasila sakti ?

1 Oktober ditetapkan menjadi hari kesaktian pancasila, entah apa dasarnya yang jelas tanggal 1 oktober sejak tahun 1965 telah menjadi hari besar nasional di negeri kita. Namun bila di lihat dari sejarah ini dikaitkan dengan peristiwa gerakan 30 september yang diduga dilakukan oleh PKI. Tanggal 1 oktober di Cina menjadi hari kesaktian komunis, nah mungkin sebagai upaya mengkerdilkan komunisme di Indonesia maka pemerintah pada saat itu (Orde Baru) memutuskan 1 oktober sebagai hari kesaktian pancasila. Ya...perang ideologis pada saat itu memang panas, terutama untuk melawan ideologi komunisme. PKI yang ditumbangkan oleh Soeharto dengan mudah semakin hancur dengan berbagai kebijakan politik yang tidak berpihak bahkan cenderung mematikan komunisme di Indonesia. Suatu hal yang banyak menjadi bahan pertanyaan, PKI sebagai partai besar bahkan menjadi Partai Komunis terbesar ketiga setelah Partai Komunis Uni sovyet dan PK China kenapa sangat mudah dikalahkan. Entahlah, kita berharap kejelasan sejarah bisa lebih faktual.
Ya, mau tidak mau saya ingin katakan bahwa kesaktian pancasila hanya sebuah counter ideology terhadap komunisme. ORBA (orde baru) dengan kekuatanya mencoba menghilangkan ideologi komunis dari Indonesia dengan berbagai propaganda serta kebijakan yang membuat masyarakat Indonesia mengalami apa yang disebut “communistphobia” (ketakutan terhadap komunisme). Kesaktian pancasila juga menjadi alat politik ORBA untuk membuat sebuah kebijakan politik yang membelenggu. Setelah komunisme lemah, Pancasila kemudian digunakan untuk menghadang lawan politik dari kalangan islam yang dianggap lawan tangguh setelah komunis. Ya...hal yang berbau islam direpresi, parpol harus berideologi pancasila. Parpol yang tidak berasas pancasila dipaksa untuk merubah menjadi pancasila. Pancasila dijadikan rezim ORBA sebagai tameng politik, jika menentang kebijakan ORBA maka dianggap anti pancasila dan harus di berangus. Sebuah metode yang membuat pancasila “dipaksa sakti”, jauh dari nilai – nilai Pancasila yang sesungguhnya. Indoktrinasi pancasila melalui P4 pada saat itu memaksa masyarakat menghafal butir – butir P4 namun miskin esensi. Yang terjadi apa??? Pancasila hanya menjadi alat hegemoni kekuasaan ORBA, Pancasila menjadi “candu” dengan berbagai hafalan-hafalannya,

Kamis, 08 September 2011

Optimisme karena nasionalis atau rasional?

Dua pertandingan awal Timnas Indonesia dalam Pra Piala Dunia putaran Grup mengalami kekalahan. Setelah kalah 3-0 oleh Iran, Indonesia juga mengalami kekalah lagi dikandang oleh Bahrain 0-2. Hal ini membuat peluang Indonesia untuk melangkah ke babak selanjutnya cukup berat. Namun banyak diantara rakyat Indonesia masih lantang mengucapkan kata “optimis” bila Indonesia mampu lolos dari grup ini. Ya…optimism memang masih disuarakan oleh pendukung setia Timnas. Namun optimism sesungguhnya bias dimaknai dua macam. Optimisme karena sikap nasionalisme atau optimism rasional.
Optimisme nasionalis kita jelas, sebagai warga Indonesia pasti harus optimis bahwa Timnas kita akan mampu, dan itu wajib karena bila seluruh elemen bangsa ini pesimis maka apa yang akan terjadi dengan bangsa ini???
Namun, secara rasional memang peluang kita cukup berat bahkan sangat berat. Diantara empat Negara yaitu Iran, Qatar, dan  Bahrain memang secara peringkat FIFA Indonesia jauh dibawah ketiga Negara itu. Iran yang merupakan langganan piala dunia jelas merupakan kekuatan paling menakutkan di grup ini, sementara Bahrai tahun lalu hamper masuk piala dunia. Ini jelas bila diatas kertas kita kalah. Di sisi lain factor stamina, pemain kita terlihat kurang maksimal, mereka kalah dari Negara – Negara arab itu. Faktor lain adalah kepelatihan Wim yang terlihat kurang bagus. Tim ini dibangun oleh Alfred Riedl dengan semangat Riedl, kemudian secara mendadak tanpa alas an jelas dig anti Wim. Ini jelas mempengaruhi Timnas. Faktor lain adalah supporter kita yang kurang dewasa. Suporter ibarat pemain ke 12 yang member semangat, namun kadang justru merugikan Timnas. Kita lihat di GBK kemarin petasan yang dinyalakan supporter Indonesia membuat nama baik serta hukuman untuk kita mengancam. Jika hukuman diberikan (pasti) maka Timnas lah yang rugi. Suporter kita masih belum layak untuk mengawal timnas kepentas dunia. Seharusnya menang atau kalah, supporter bias menerima dan bias tetap member semangat. Lihat suporter tim kelas dunia, walau kalah tetap setia. Brazil, Agrentina, Inggris, dll pernah kalah, namun tidak membuat suporter berbuat ulah tidak baik. Jadi secara rasional memang peluang Indonesia sangat berat.
Namun, apapun yang terjadi optimism nasionalis harus tetep membara…