"Tidak boleh berhenti mencari kebenaran sejati. Karena kebenaran semu hanyalah argumen hipotesis yang dilontarkan para pemegang kekuasaan. Jangan takut menilai dan jangan berhenti bertanya," begitu pesan Pemimpin Redaksi RCTI, Arief Suditomo.
"Ada lima kebohongan media. Pertama, membesarkan atau mengecilkan data. Peristiwa ada, cuma disajikan besar dan kecil sesuai maunya media. Kedua, memberitakan yang tak pernah ada. Ketiga, tidak memberitakan apa sebenarnya terjadi. Good news bagi media selalu memilih bad news. Empat, mengelabui agenda publik dengan membombardir agenda media.Lima, meyakinkan publik bahwa mereka sedang tidak berbohong. Pesan saya, jangan sudi dibohongi lagi," pesan Pakar Komunikasi, Effendi
Gazali.?Dua pesan di atas terdapat dari pengantar buku ini. Pertama dari praktisi media, kedua pakar komunikasi. Keduanya punya apresiasi yang cukup berwarna terhadap buku yang ditulis Jerry D Gray ini. Benar pesan mereka. Sejak kebebasan pers di negeri ini buncah dari rahim reformasi, pers tumbuh bak cendawan di musim hujan. Simaklah program berita dan dialog di televisi, setiap hari kita disuguhkan dengan sangat terpaksa harus kita tonton dimana channel dipencet ibu jari.
"Ada lima kebohongan media. Pertama, membesarkan atau mengecilkan data. Peristiwa ada, cuma disajikan besar dan kecil sesuai maunya media. Kedua, memberitakan yang tak pernah ada. Ketiga, tidak memberitakan apa sebenarnya terjadi. Good news bagi media selalu memilih bad news. Empat, mengelabui agenda publik dengan membombardir agenda media.Lima, meyakinkan publik bahwa mereka sedang tidak berbohong. Pesan saya, jangan sudi dibohongi lagi," pesan Pakar Komunikasi, Effendi
Gazali.?Dua pesan di atas terdapat dari pengantar buku ini. Pertama dari praktisi media, kedua pakar komunikasi. Keduanya punya apresiasi yang cukup berwarna terhadap buku yang ditulis Jerry D Gray ini. Benar pesan mereka. Sejak kebebasan pers di negeri ini buncah dari rahim reformasi, pers tumbuh bak cendawan di musim hujan. Simaklah program berita dan dialog di televisi, setiap hari kita disuguhkan dengan sangat terpaksa harus kita tonton dimana channel dipencet ibu jari.
Ada jurnalisme yang tak jelas "kelaminnya", karena yang dikejar hanyalah publik figur dan kehidupan pribadi tokoh semata. Kita tak tahu apa sebenarnya di balik berita dan narasi yang terkesan dipaksakan itu. Jangan-jangan rekayasa demi mendongkrak popularitas dan pendekatan publik relation paling mutakhir saja. ?Kali lain, darah dan air mata. Peluru dan penjahat setiap hari menjadi berita. Kita tak tahu ada rekayasa apa dari gambar-gambar yang selalu bisa menjelaskan kaki penjahat ditembak. Jitunya tembakan, sehingga yang tertembak selalu bagian kaki dan otot belakang betis. ?Setidaknya begitulah yang harus dikritisi pada media hari ini. Termasuk media cetak. Keingintahuan apa sebenarnya terjadi dalam proses beritadisiarkan,dituliskan, harus pula menjadi bagian informasi yang diketahui. Oleh karenanya pesan dua tokoh pada awal resensi ini menjadi amat tepat untuk diarifi. Seperti dikatakan, menyampaikan kebenaran dalam sebuah berita sering terkendala seribu satu faktor.
Buku yang ditulis Jerry D Gray ini membuka cakrawala kita tentang fakta tersembunyi kejahatan media barat pada saat ini.