Tampilkan postingan dengan label Media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Juli 2011

Dosa-dosa Media Amerika


"Tidak boleh berhenti mencari kebenaran sejati. Karena kebenaran semu hanyalah argumen hipotesis yang dilontarkan para pemegang kekuasaan. Jangan takut menilai dan jangan berhenti bertanya," begitu pesan Pemimpin Redaksi RCTI, Arief Suditomo. 
"Ada lima kebohongan media.
 Pertama, membesarkan atau mengecilkan data. Peristiwa ada, cuma disajikan besar dan kecil sesuai maunya media. Kedua, memberitakan yang tak pernah ada. Ketiga, tidak memberitakan apa sebenarnya terjadi. Good news bagi media selalu memilih bad news. Empat, mengelabui agenda publik dengan membombardir agenda media.Lima, meyakinkan publik bahwa mereka sedang tidak berbohong. Pesan saya, jangan sudi dibohongi lagi," pesan Pakar Komunikasi, Effendi 
Gazali.?Dua pesan di atas terdapat dari pengantar buku ini. Pertama dari praktisi media, kedua pakar komunikasi. Keduanya punya apresiasi yang cukup berwarna terhadap buku yang ditulis Jerry D Gray ini. Benar pesan mereka. Sejak kebebasan pers di negeri ini buncah dari rahim reformasi, pers tumbuh bak cendawan di musim hujan. Simaklah program berita dan dialog di televisi, setiap hari kita disuguhkan dengan sangat terpaksa harus kita tonton dimana channel dipencet ibu jari.

Ada jurnalisme yang tak jelas "kelaminnya", karena yang dikejar hanyalah publik figur dan kehidupan pribadi tokoh semata. Kita tak tahu apa sebenarnya di balik berita dan narasi yang terkesan dipaksakan itu. Jangan-jangan rekayasa demi mendongkrak popularitas dan pendekatan publik relation paling mutakhir saja. ?Kali lain, darah dan air mata. Peluru dan penjahat setiap hari menjadi berita. Kita tak tahu ada rekayasa apa dari gambar-gambar yang selalu bisa menjelaskan kaki penjahat ditembak. Jitunya tembakan, sehingga yang tertembak selalu bagian kaki dan otot belakang betis. ?Setidaknya begitulah yang harus dikritisi pada media hari ini. Termasuk media cetak. Keingintahuan apa sebenarnya terjadi dalam proses beritadisiarkan,dituliskan, harus pula menjadi bagian informasi yang diketahui. Oleh karenanya pesan dua tokoh pada awal resensi ini menjadi amat tepat untuk diarifi. Seperti dikatakan, menyampaikan kebenaran dalam sebuah berita sering terkendala seribu satu faktor.

Buku yang ditulis Jerry D Gray ini membuka cakrawala kita tentang fakta tersembunyi kejahatan media barat pada saat ini.

Sabtu, 23 Juli 2011

Selain pornografi, kekerasan, dan mistis; berita politik juga berbahaya bagi anak

Beberapa waktu yang lalu entah lalunya berapa lama, kita disuguhkan dengan adanya perdebatan terkait dengan bahaya tayangan pornografi, kekerasan, serta hal – hal yang berbau mistis. Ketga hal itu memang menjadi hal yang sering ditampilkan dalam media televisi kita. Hal itu dianggap berbahaya karena dapat merusak perkembangan anak serta pola pikir masyarakat. Dan hal yang paling normatif yang diutarakan adalah pornografi, kekerasan, serta tayangan berbau mistis merusak moralitas masyarakat terutama apabila ditonton oleh anak – anak. Benar sekali memang, pornografi jelas tidak diperbolehkan karena tidak sesuai dengan adab ketimuran yang dianut oleh bangsa kita, disamping itu tayangan pornografi bila ditonton anak kecil akan merusak pola pikiran anak. Kekerasan juga demikian bahaya bagi anak-anak. Tayangan kekerasan yang ditampilkan di televisi bila ditonton anak akan berdampak pada peniruan terhadap adegan – adegan kekerasan tersebut. Sudah banyak peristiwa dimana anak-anak mempraktekan adegan kekerasan terhadap teman bermainya yang mengakibatkan kecelakaan luka maupun kematian. Demikian pula dengan tayangan mistis akan berakibat merusak pola pikir rasional masyarakat dan bahkan para tokoh agama khawatir akan membawa masyarakat menjadi musrik.
Ternyata tidak hanya tiga hal itu yang berbahaya bagi perkembangan anak bila ditonton. Apakah hal itu??? Ya, Berita politik yang secara masif ditayangkan di televisi saya pikir juga berbahaya. Baru – baru ini berita terkait perpolitikan semisal yang paling hangat kasus Nazarudin dengan Anas, hampir tidap pagi, siang, sore, malam selalu menjadi berita. Ini jelas berbahaya bila ditonton oleh anak – anak. Bagaimana berbahaya? Ya, kita dipertontonkan sandiwara politik, konflik politik, perseteruan yang tidak jelas siapa yang salah dan siapa yang benar. Berita anas vs nazarudin misalnya itu menyajikan bagaimana hubungan persahabatan hancur seketika gara- gara uang. Ini pelajaran yang tidak baik tentang ketidak setiakawanan. Selain itu kebohongan atau ketidakjujuran menjadi hal yang sering kita lihat dan diperlihatkan dimedia televisi kita.
Apa jadinya jika tayangan ini ditonton anak, kemudian menelan mentah – mentah?? Jelas sangat berbahaya. Nilai ketidaksetiakawanan, kebohongan/ketidakjujuran akan merasuki generasi muda kita jikalau tayangan politk yang maha amburadul ini dipertontonkan kepada anak secara masif. Media serta para politikus kita yang seharusnya menyajikan serta memberi pembelajaran politik yang baik kepada masyarakat ternyata menyuguhkan perpolitikan yang busuk, korup, serta dibumbui dengan perseteruan dan kepentingan rating. Sungguh disayangkan...
Itulah bahayanya tayangan berita perpolitikan dinegeri kita bagi perkembangan anak. Jadi jikalau anda sudah muak dengan tayangan – tayang politik kita. Hindarkan anak – anak ketika anda sedang menonton sandiwara politik di televisi kita.
Matikan TV sekarang juga, selamatkan perkembangan anak!!!